oleh

Wahid Institute: Ahok Korban Ekstrimisme Kekerasan di Indonesia

hitamputih.co – Ketua Program Manajer Wahid Institute, Alamsyah M Djafar mengatakan ekstrimisme kekerasan atau radikalisme di Indonesia kerap kali muncul oleh perasaan terancam, rasa benci dan pelintiran informasi.  Kata dia, kasus yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama alias Ahok merupakan salah satu contoh ekstrimisme kekerasan.

“Agama salah satu, ada kebencian, ada perasaan terancam, kadang-kadang pelintir informasi,” ujar Alamsyah kepada Media Indonesia usai bedah buku berjudul “Menghalau Ekstrimisme” di gedung IASTH, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Universitas Indonesia, Salemba, Jakpus, Selasa (27/11)

Berdasarkan riset, kata Alamsyah, Wahid Institute lebih menggunakan istilah ekstrimisme kekerasan untuk menyebut radikalisme. Ekstrimisme kekerasan berarti penggunaan atau partisipasi di dalam tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan politik, ekonomi dan lain-lain.

Ekstrimisme kekerasan, lanjut dia juga memiliki bermacam-macam bentuk yakni terorisme, kekerasan politik, dan kekerasan dengan motif agama.

“Misalnya dukungan untuk melakukan pembunuhan terhadap aktor tertentu. Ada demonstrasi di depan massa lalu ada tokoh yang mengatakan bahwa dia (seseorang) harus dibinasakan. Itu bentuk dari ekstrimisme kekerasan,” ujarnya.

Menurut Alamsyah, kasus Ahok merupakan salah satu contoh nyata ekstrimisme kekerasan yang terjadi di Indonesia. Di mana dalam kasus tersebut, terdapat aktor tertentu menyerukan pembunuhan terhadap Ahok karena melakukan penistaan agama.

Sebaliknya, kata dia, latar etnis dan agama mantan Bupati Belitung Timur tersebut bukan merupakan faktor yang melahirkan ekstrimisme kekerasan. Kasus Ahok, sebut Alamsyah lebih karena motif politik.

“Tapi  bahwan kalau dia tidak setuju dengan Ahok karena Kristen, dia (Ahok) Cina, itu kita sebut intoleran. Makanya (kasus Ahok termasuk ) ekstrimisme kekerasan. Jadi tindakan yang dipengaruhi oleh gagasan yang ekstrim yang menggunakan kekerasan,” tegasnya.

Lebih lanjur Alamsyah menjelaskan, ekstrimisme kekerasan pada dasarnya lahir karena tiga faktor. Pertama, faktor sosial, yakni menyangkut tinggi-rendahnya ekonomi seseorang, latar belakang pendidikan dan latar belakang tempat tinggal (kota atau daerah);  kedua faktor psikologi, yakni mengenai apakah seseorang merasa hidupnya cukup, merasa kurang terus, banyak keluhaan, dan lain sebagainya.

“Ketiga faktor ideologi, bagaimana mereka memahami narasi-narasai keagamaan,” pungkas dia. (MI)

 

@lambejeplak @lambeturah @seputarsemarang  #migsémara #cegatanjogja #cegatansolo #cegatan #semarang #semaranghits #semarangexplore #jatenggayeng  #jateng #jatengeksis #seputarindonesia #seputarsemarang #lambeturah @tribunjateng @tribunnews @zona_info @infokejadiansemarang @infosemaranghits @mediasemarangextreme @infocegatanseindonesia #jawa #jawatengah @gadissosmed_ @tribratanews  @officialrcti  @metrotv @mmtctv @cnnindonesia @kompastv @suara_merdeka @tvonenews @youtube @koboisarap @indosiar @tvrijateng @antv_official @jawapos @tempodotco @info_cegatan_boyolali @info.cegatan_jogja  @info_cegatansolo @semarang_terbaru @semarangpsis @unnes_semarang  @undip_semarang @kampusindonesia_ @nahdatul_ulama_ @cb_jateng @kampussemarang @elshintanewsandtalk @elshintatv_jakarta @elshintadotcom @radioelshinta_smg @radioidolasmg @satgasnusantara   @merajut_kebhinekaan #psis 

banner 300250

News Feed