SRAGEN—Belasan ekor sapi di Dukuh Purwosari, Desa Jurangjero, Kecamatan Karangmalang, Sragen, mati mendadak diduga terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) sejak dua pekan terakhir. Para peternak di dukuh tersebut meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen segera melakukan penanganan dan pencegahan agar tidak terjadi kasus kematian sapi lagi di dukuh tersebut.

Salah seorang peternak di Dukuh Purwosari RT 004, Desa Jurangjero, Karangmalang, Sragen, Budiyanto, 42, saat ditemui wartawan, Senin (6/5/2024), mengaku sudah tidak memiliki sapi lagi karena tiga ekor sapinya mati. Dia menyampaikan awalnya sapi betina indukan yang sudah berumur lima tahun mati pada Senin (29/4/2024) siang.

Setelah itu, Budiyanto mengatakan, giliran sapi anakan yang berumur empat bulan ikut mati pada Rabu (1/5/2024) malam. Kemudian kasus kematian terakhir, kata dia, terjadi pada sapi jantan miliknya pada Minggu (5/5/2024) pukul 21.00 WIB.

“Sapi anakan yang mati itu saya kubur di belakang kandang. Sedangkan dua ekor sapi betina dan jantan itu kami sembelih sebelum mati dan dijual. Kasus kematian sapi itu tidak hanya di tempat saya tetapi di tempat tetangga satu RT dan beda RT juga ikut mati. Kematian sapi itu diduga positif PMK,” ujar Budiyanto.

Budiyanto mengaku sudah empat kali menyuntikan sapinya sebelum mati tetapi akhirnya mati juga. Dia mengatakan sapi-sapi itu rentan terhadap penyakit PMK. Tanda-tandanya hidung meler atau berlendir, lidah terkena gomen kalau orang Jawa menyebutnya.

“Jadi yang indukannya masih bisa dijual sedangkan yang anakan dikubur. Yang jantan itu sebenarnya kami siapkan untuk hewan kurban besok. Kalau dijual sudah laku Rp25 juta,” ujarnya.

Budiyanto menerangkan sapi yang mati itu merupakan jenis limosin. Dia baru Minggu malam melapor kepada ketua RT setempat agar segera ditindaklanjuti pemerintah kabupaten. “Semoga ada penanganan lanjutan dari Pemkab karena kasihan para peternak di Purwosari ini. Informasi awal ada 14 kasus kematian selama dua pekan terakhir. Penularannya cepat banget. Hampir setiap warga di sini memiliki sapi,” jelasnya.

Dia berharap Pemkab segera turun tangan untuk vaksinasi atau pengobatan supaya tidak muncul kasus kematian lagi terhadap sapi yang diduga PMK. Dia menyebut 14 kasus kematian sapi itu terjadi di RT 004 ada empat ekor, RT 005 ada tiga ekor, RT 007 ada tiga ekor dan RT 006 ada empat ekor. Dia mengatakan sapi-sapi yang sakit juga masih ada, seperti di RT 004 itu ada enam ekor sapi yang sakit.

Peternak sapi di RT 004 Purwosari, Sragen, Suwarno, 52, menunjukkan dua ekor sapinya sudah terjangkit PMK, satu ekor sapinya sudah ndeprok. Dia berharap sapi yang ndeprok itu bisa bangun lagi. Dia mengatakan sakitnya dua ekor sapinya terjadi pada Sabtu (4/5/2024) lalu.

“Awalnya satu ekor yang sakit, setelah sehari semalam satu ekor lainnya ikut sakit,” katanya.

Suwarno sudah berupaya untuk mengatasi gejala PMK yang muncul dengan penyemprotan kandang, memberi minuman gula jawa, disuntikkan ke mantri hewan. Dia mengatakan sekali suntik itu biayanya Rp150.000. “Mulut dan hidungnya itu berlendir. Apa pun saran warga langsung saya lakukan agar sapi saya sehat,” ujarnya.

Petugas Medic Veteriner Muda Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen, Ana Margaretha, mengatakan DKP3 baru mendapat laporan kematian sapi dari Purwosari RT 004, Desa Jurangjero, Karangmalang, pada Senin pagi. Dia mengatakan laporan yang masuk ada dua orang peternak dengan kasus kematian sapi sebanyak empat ekor terdiri atas sapi milik Budiyanto ada tiga ekor dan Jafariyanto ada satu ekor.

“Langkah antisipasinya, kami melakukan pengobatan di 20 kecamatan. Kebetulan jadwalnya hari ini [Senin] di Gondang. Pengobatan massal di Jurangjero dijadwalkan lain hari. Ya, penyakit PMK mulai merebak lagi. Indonesia belum bisa bebas PMK, yakni penyakit yang disebabkan oleh virus. Pemicunya bisa cuaca, sistem imun tubuh hewan menurun, dikarenakan perubahan musim penghujan dan kemarau, siang panas dan malam dingin. Faktor nutrisi juga kurang, ternak-ternak yang baru belum divaksinkan juga bisa,” jelas Ana.

Untuk pencegahan awalnya, Ana mengimbau kepada peternak untuk mengawasi ternak-ternaknya. Dia mengatakan tanda-tanda penyakit PMK itu ada liur di mulut, sariawan di mulut, kalau parah ada luka pada kuku kakinya. Dia mengimbau agar peternak mengandangkan ternak yang sakit dan memisahkan ternak yang sakit dan yang sehat, serta menjaga kebersihan kandang.

“Yang penting menjaga lalu lintas ternak dan lalu lintas orang. Jadi kalau orang yang dari kandang tertular PMK maka jangan masuk ke kandang yang sehat karena orang bisa menularkan penyakit PMK dengan cepat. Peternak juga harus mau memvaksinkan ternaknya karena vaksin menjadi salah satu cara pencegahan ternak agar terhindar dari PMK,” ujarnya.

 

Polda Jateng, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Luthfi, Wakapolda Jateng, Brigjen Pol Agus Suryonugroho, Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Satake Bayu, Jawa Tengah, Jateng, AKBP Sigit, AKBP Suryadi, AKBP Erick Budi Santoso, Iptu Mohammad Bimo Seno, Kompol Joko Lelono, AKBP Hary Ardianto, AKBP Bronto Budiyono, Kombes Pol Nanang Haryono