Breaking NewsKriminalitasNasionalRealita

Kominfo Blokir 500 Situs Terorisme, Radikalisme dan Separatisme

hitamputih.co – Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir 500 situs yang memuat konten terorisme, radikalisme, dan separatisme. Menutup ruang pergerakan bagi situs berbahaya lain.

Berdasarkan laporan Subdit Pengendalian Konten Internet, Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, dalam database penanganan konten, tercatat 3 (tiga) situs yang memuat konten separatisme dan organisasi berbahaya telah diblokir.

Sementara itu, untuk situs terorisme dan radikalisme, Kementerian Kominfo telah memblokir 497 situs. Sebanyak 202 situs merupakan jumlah situs yang diblokir sampai Desember 2017.

“Untuk tahun 2018 saja, Kementerian Kominfo telah memblokir sebanyak 295 situs yang mengandung konten terorisme dan radikalisme. Sementara untuk situs konten separatisme diblokir 3 situs pada bulan Juni 2018,” ujar Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu dalam keterangan tertulis, Jumat (21/12/2018).

Pemblokiran situs yang memuat konten terorisme dan radikalisme sudah dilakukan sejak 2010 hingga saat ini. Situs yang telah diblokir kebanyakan berasal dari luar negeri, dengan registernya lebih banyak bertuliskan ‘dot com’.

Tindakan pemblokiran dilakukan atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Selain itu, pemblokiran sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 27 ayat (1) dan (2), Pasal 28 ayat (1) dan (2), serta Pasal 40 ayat (2).

Ferdinandus mengatakan, meski penutupan situs terorisme dan radikalisme serta separatisme sudah dilakukan, Kementerian Kominfo terus melakukan pencarian situs dan akun menggunakan mesin AIS setiap dua jam sekali.

Selain itu, lanjut Ferdinandus, Kementerian Kominfo bekerja sama dengan Polri menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten terorisme, radikalisme, dan separatisme.

“Kementerian Kominfo juga mendorong masyarakat untuk menghindari konten terorisme, radikalisme, dan separatisme. Jika menemukan keberadaan situs seperti itu dapat melaporkannya ke aduankonten.id atau akun Twitter @aduankonten,” pungkas Ferdinandus.

Related Posts

1 of 179